Gambaran Sistiserkosis dan Taeniasis

Ihda Zuyina Ratna Sari

Abstract

Sistiserkosis dan taeniasis termasuk neglected diseases yang masih menjadi masalah kesehatan terutama di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Prevalensi sistiserkosis dan taeniasis di Indonesia berkisar 2-48%, tertinggi (hiperendemis sistiserkosis) di Papua. Sistiserkosis disebabkan infeksi larva cacing pita Taenia solium, taeniasis dapat disebabkan oleh cacing dewasa dari spesies T. solium, T. saginata, dan T. asiatica. Sistiserkosis dan taeniasis umumnya terjadi pada masyarakat yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi daging babi mentah atau setengah matang dan memiliki personal hygiene serta sanitasi lingkungan yang kurang baik. Sistiserkosis dan taeniasis mungkin asimtomatik. Diagnosis umumnya dengan anamnesis, pemeriksaan feses, dan diagnosis penunjang lainnya. Pengobatan dengan obat antihelmintik atau pembedahan untuk sistiserkosis. Pencegahan dengan menghilangkan sumber infeksi, meningkatkan personal hygiene dan sanitasi lingkungan, vaksinasi, dan pemberian obat cacing pada ternak, khususnya babi dan sapi, pengawasan dan memeriksa daging yang dikonsumsi, dan tidak mengonsumsi daging mentah atau setengah matang.

Full Text:

PDF

References

Sandy S. Kajian aspek epidemiologi taeniasis dan sistiserkosis di Papua. J Penyakit Bersumber Binatang. 2014;2(1):1-14.

Susanty E. Taeniasis solium dan sistiserkosis pada manusia. J Ilmu Kedokt. 2018;12(1):1-6.

Aung AK, Spelman DW. Taenia solium taeniasis and cysticercosis in Southeast Asia. Am J Trop Med Hyg. 2016;94(5):947-54. doi:10.4269/ajtmh.15-0684

Sandy S, Sasto IH, Fitriana E, Natalia EI. Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian taeniasis dan sistiserkosis di Papua Barat. Balaba J Litbang Pengendali Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara. 2019;15(1):1-12. doi:10.22435/blb.v15i1.1231

Sutisna P, Kapti IN, Wandra T, Dharmawan NS, Swastika K, Sudewi AAR, et al. Towards a cysticercosis-free tropical resort island: A historical overview of taeniasis/cysticercosis in Bali. Acta Trop. 2019;190:273-83. doi:10.1016/j.actatropica.2018.10.012

Yulianto H, Satrija F, Lukman DW, Sudarwanto M. Seroprevalensi positif sistiserkosis pada babi hutan di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. J Vet. 2015;16(2):187-95.

Tamonob MPA, Detha AIR, Wuri DA. Deteksi sistiserkosis pada babi yang dipotong di Rumah Potong Hewan Kota So’e. J Vet Nusant. 2019;2(2):1-9.

Yanagida T, Sako Y, Nakao M, Nakaya K, Ito A. Taeniasis and cysticercosis due to Taenia solium in Japan. Parasites and Vectors 2012;5(18):1-6. doi:10.1186/1756-3305-5-18

Mohanty A, Singh TS, Bhutia TO, Gupta P, Gupta P. A case of albendazole and niclosamide resistant Taenia saginata infection. Int J Res Med Sci. 2017;5(6):2821-3. doi:10.18203/2320-6012.ijrms20172497

Sandy S, Lidwina S, Antonius SO, Hanna SK, Mirna W, Hotma MH, et al. Seroepidemiology of Taeniasis in the Land of Papua. J Kes Masy. 2019;15(1):22-8. https://doi.org/10.15294/ kemas.v15i1.9702

Suada IK, Swacita IBN, Purba EHB. Seroprevalensi sistiserkosis pada babi lokal yang dipotong di Tempat Pemotongan Babi Penatih, Denpasar. Indones Med Veterinus. 2016;5(2):182-7.

Lingga A, Swacita IBN, Suada IK. Seroprevalensi sistiserkosis pada babi di wilayah Wamena, Papua. Bul Vet Udayana. 2020;12(1):67-73. doi:10.24843/bulvet.2020.v12.i01.p12

Chai JY. Praziquantel treatment in trematode and cestode infections: An update. Infect Chemother. 2013;45(1):32-43. doi:10.3947/ic.2013.45.1.32

Refbacks

  • There are currently no refbacks.