Stunting pada Anak dengan Tuberkulosis Paru dan Anemia Defisiensi Besi

Laporan Kasus

Penulis

  • Asterisa Retno Putri Dokter Umum, Rumah Sakit Umum Wangaya, Denpasar, Bali, Indonesia
  • Runi Arumndari Dokter Umum, Rumah Sakit Umum Wangaya, Denpasar, Bali, Indonesia
  • Claudia Natasha Liman Dokter Umum, Rumah Sakit Umum Wangaya, Denpasar, Bali, Indonesia
  • Made Ratna Dewi Dokter Spesialis Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Umum Wangaya, Denpasar, Bali, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.55175/cdk.v52i3.1111

Kata Kunci:

Stunting, tuberkulosis paru, anemia defisiensi besi

Abstrak

Latar belakang: Stunting didefinisikan sebagai tinggi badan rendah untuk usia yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis atau berulang. Kekurangan gizi merupakan faktor risiko utama tuberkulosis (TB) secara global; biasanya dikaitkan dengan kemiskinan, kesehatan, dan gizi buruk ibu, serta sering sakit dan/atau pemberian makan dan perawatan yang tidak tepat pada masa awal kehidupan. Stunting menghambat anak untuk mencapai potensi fisik dan kognitifnya, sehingga perlu tata laksana yang tepat. Kasus: Seorang anak perempuan berusia 4 tahun dirujuk dengan kesulitan bernapas disertai berat badan turun dan nafsu makan menurun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan berat badan terhadap tinggi badan normal, namun sangat pendek dan sugestif TB. Sampel darah menunjukkan anemia dengan indeks Mentzer >13. Usia tulang 3 tahun di bawah usia kronologis. Tata laksana pasien difokuskan pada pengobatan TB, perbaikan gizi, dan anemia. Simpulan: Penilaian gizi harus diintegrasikan ke dalam perawatan TB standar dan secara bersamaan mengobati anemia defisiensi besi.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2021 [Internet]. 2022. Available from: http://www.kemkes/go.id.

de Onis M, Branca F. Childhood stunting: A global perspective. Matern Child Nutr. 2016 ;12(Suppl 1):12–26. DOI: 10.1111/mcn.12231.

Sinha P, Davis J, Saag L, Wanke C, Salgame P, Mesick J, et al. Undernutrition and tuberculosis: Public health implications. J Infect Dis. 2019;219(9):1356–63. DOI: 10.1093/infdis/jiy675.

Mohammed SH, Larijani B, Esmaillzadeh A. Concurrent anemia and stunting in young children: Prevalence, dietary and non-dietary associated factors. Nutr J. 2019;18(1):10. DOI: 10.1186/s12937-019-0436-4.

Gunardi H, Handryastuti S, Prawitasari T. Stunting pencegahan, diagnosis, dan tatalaksana terpadu. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2021.

Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SR, Satari HI. Buku ajar infeksi dan pediatri tropis edisi kedua. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2015.

Nurwitasari A, Wahyuni CU. The effect of nutritional status and contact history toward childhood tuberculosis in Jember. J Berk Epidemiol. 2015;3(2):158–69.

World Health Organization. International statistical classification of diseases and related health problems [Internet]. 2015 [cited 2023 Aug 25]. Available from: https://apps.who.int/iris/handle/10665/246208.

Jahiroh N, Prihartono N. Hubungan stunting dengan kejadian tuberkulosis pada balita. Indones J Infect Dis. 2017;1(2):6–13. DOI: 10.32667/ijid.v1i2.7.

Balarajan Y, Ramakrishnan U, Ozaltin E, Shankar AH, Subramanian S. Anaemia in low-income and middle-income countries. Lancet 2011;378(9809):2123–35. DOI: 10.1016/S0140-6736(10)62304-5.

Gosdin L, Martorell R, Bartolini RM, Mehta R, Srikantiah S, Young MF. The co-occurrence of anaemia and stunting in young children. Matern Child Nutr. 2018;14(3):e12597. DOI: 10.1111/mcn.12597.

Rahman. Is unwanted birth associated with child malnutrition in Bangladesh? Int Perspect Sex Reprod Health. 2015;41(2):80. DOI: 10.1363/4108015.

Diterbitkan

2025-03-05

Cara Mengutip

Putri, A. R., Arumndari, R., Liman, C. N., & Dewi, M. R. (2025). Stunting pada Anak dengan Tuberkulosis Paru dan Anemia Defisiensi Besi: Laporan Kasus. Cermin Dunia Kedokteran, 52(3), 178–181. https://doi.org/10.55175/cdk.v52i3.1111