Profil Pemberian Vaksin Rabies pada Pasien Digigit Anjing di Puskesmas Natarandang, Kecamatan Wolomeze, Nusa Tenggara Timur, Indonesia

Penelitian

Penulis

  • Sri Natalia Ginting General Practitioner, Community Health Centre 3, South Denpasar, Denpasar City, Bali, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.55175/cdk.v53i07.1858

Kata Kunci:

Gigitan anjing, profilaksis pascapaparan, rabies, vaksin

Abstrak

Pendahuluan: Rabies adalah penyakit viral yang hampir selalu fatal setelah gejala klinis muncul, dengan anjing sebagai sumber penularan utama. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil pemberian vaksin rabies pada pasien digigit anjing di Puskesmas Natarandang Kecamatan Wolomeze. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif pada 32 pasien yang menerima vaksin rabies setelah digigit anjing antara Januari 2022 dan Februari 2023. Data dikumpulkan dari rekam medis dan dianalisis secara deskriptif. Hasil: Mayoritas pasien adalah laki-laki (65,6%), dengan lokasi gigitan terbanyak di betis (34,4%) dan tangan (28,1%). Tindakan pertama yang paling sering adalah menanyakan riwayat infeksi anjing dan segera memeriksakan diri ke dokter (masing-masing 34,4%). Vaksin rabies yang paling banyak diberikan adalah PCECV (81,3%). Keterlambatan mencari pertolongan medis sering dikaitkan dengan gejala demam (65,6%). Simpulan: Mayoritas pasien gigitan anjing di Puskesmas Natarandang adalah laki-laki, dengan lokasi gigitan terbanyak di betis dan tangan. Pertolongan pertama yang paling sering adalah mencari riwayat infeksi anjing dan memeriksakan diri ke dokter. Vaksin rabies yang paling banyak digunakan adalah PCECV. Gejala paling sering adalah demam.

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Referensi

Tkachev S, Payan-Carreira R. Rabies virus at the beginning of 21st century. BoD–Books on Demand; 2022.

Centers for Disease Control and Prevention. Global rabies: what you should know [Internet]. Georgia, USA: CDC; 2024 [cited 2025 Mar 5]. Available from: https://www.cdc.gov/rabies/around-world/index.html.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Rabies penyakit paling mematikan di dunia [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI; 2018 [cited 2025 Mar 5]. Available from: https://www.kemkes.go.id/id/rilis-kesehatan/rabies-penyakit-paling-mematikan-dunia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hingga April 2023 ada 11 kasus kematian karena rabies, segera ke faskes jika digigit anjing [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI; 2023 [cited 2025 Mar 5]. Available from: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20230602/3343156/hingga-april-2023-ada-11-kasus-kematian-karena-rabies-segera-ke-faskes-jika-digigit-anjing.

World Health Organization. Rabies: rationale for investment in the global elimination of dog-mediated human rabies [Internet]. Geneva: WHO; 2018 [cited 2025 Mar 5]. Available from: https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/259855/WHO-CDS-NTD-NZD-2018.04-eng.pdf?sequence=1.

Wang L, Zhang J, Meng S, Ge L, You Y, Xu Q, et al. Safety and immunogenicity of human rabies vaccine for the Chinese population after PEP: A systematic review and meta-analysis. Vaccine. 2022;40(32):4371–9. doi: 10.1016/j.vaccine.2022.06.035.

Pichon S, Moureau A, Petit C, Chu L, Essink B, Muse D, et al. Safety and immunogenicity of a serum-free purified Vero rabies vaccine in healthy adults: a randomised phase II pre-exposure prophylaxis study. Vaccine. 2022 Aug 5;40(33):4780–7. doi: 10.1016/j.vaccine.2022.06.040.

Quiambao B, Montalban C, Minutello AM, Guinet-Morlot F, Moureau A, Petit C, et al. Serum-free purified Vero rabies vaccine is safe and immunogenic in children: results of a randomized phaseII pre-exposure prophylaxis regimen study. Vaccine. 2022;40(35):5170–8. doi:10.1016/j.vaccine.2022.06.061.

Nyasulu PS, Weyer J, Tschopp R, Mihret A, Aseffa A, Nuvor SV, et al. Rabies mortality and morbidity associated with animal bites in Africa: a case for integrated rabies disease surveillance, prevention and control: a scoping review. BMJ Open 2021;11:e048551. doi:10.1136/bmjopen-2020-048551.

Santhia K. Human rabies epidemiology in Bali, Indonesia. IJHMS. 2019;2(1):7–16. doi: 10.31295/ijhms.v2n1.77.

Yulianita NLP, Adisanjaya NN, Wasita RRR. Pemetaan faktor risiko kasus gigitan hewan penular rabies pada manusia berbasis sistem informasi geografis di Kabupaten Buleleng pada tahun 2021. HTJ. 2023;9(1):1–9. doi: 10.22487/htj.v9i1.555.

Setiawaty V, Septiawati C, Burni E. Karakteristik kasus fatal akibat gigitan hewan penular rabies di Indonesia 2016–2017. MPK. 2019;29(3):235–42. doi: 10.22435/mpk.v29i3.1022.

Henry RE, Blanton JD, Angelo KM, Pieracci EG, Stauffer K, Jentes ES, et al. A country classification system to inform rabies prevention guidelines and regulations. J Travel Med. 2022;29(4):taac046. doi: 10.1093/jtm/taac046.

Rebellato S, Choi M, Gitelman J, Ratiu F, Magnusson K, Armstrong B, et al. Rabies in an imported dog, Ontario, 2021. CCDR. 2022;48(6):238–42. doi: 10.14745/ccdr.v48i06a01.

Lian M, Hueffer K, Weltzin MM. Interactions between the rabies virus and nicotinic acetylcholine receptors: a potential role in rabies virus induced behavior modifications. Heliyon. 2022;8(9):e10434. doi: 10.1016/j.heliyon.2022.e10434.

Du Pont V, Plemper RK, Schnell MJ. Status of antiviral therapeutics against rabies virus and related emerging lyssaviruses. Curr Opin Virol. 2019;35:1–13. doi: 10.1016/j.coviro.2018.12.009.

Minghui R, Stone M, Semedo MH, Nel L. New global strategic plan to eliminate dog-mediated rabies by 2030. Lancet Glob Health. 2018;6(8):e828–9. doi: 10.1016/S2214-109X(18)30302-4.

Bai Y, Huang P, Feng N, Li Y, Huang J, Jin H, et al. Treat the “untreatable” by a photothermal agent: triggering heat and immunological responses for Rabies virus inactivation. Adv Sci. 2023;10(2):2205461. doi: 10.1002/advs.202205461.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-15

Cara Mengutip

Natalia Ginting, S. (2026). Profil Pemberian Vaksin Rabies pada Pasien Digigit Anjing di Puskesmas Natarandang, Kecamatan Wolomeze, Nusa Tenggara Timur, Indonesia: Penelitian. Cermin Dunia Kedokteran, 53(07), 457–461. https://doi.org/10.55175/cdk.v53i07.1858

Terbitan

Bagian

Articles